pbwp - Sebelum tahun 1990-an, proses belajar membaca Al-Qur’an di Indonesia didominasi oleh Metode Baghdadiyah atau yang populer dikenal sebagai metode "Turutan". Metode kuno asal Timur Tengah ini menuntut para santri untuk mengeja setiap huruf secara mekanis sebelum melafalkannya. Proses mengeja ini memakan waktu berbulan-bulan, bahkan tahunan, dan tidak jarang membuat anak-anak jenuh sebelum mereka sempat menyentuh dan membaca lembaran Al-Qur’an yang sesungguhnya.
Kondisi stagnan inilah yang menggerakkan KH. As’ad Humam, seorang pedagang perhiasan dari Kotagede, Yogyakarta, untuk mencari alternatif yang lebih efektif. Meskipun beliau mengalami keterbatasan fisik akibat penyakit pengapuran tulang belakang yang membuatnya harus berjalan menggunakan tongkat, semangatnya tidak surut. Bersama Team Tadarus AMM Yogyakarta, beliau merumuskan metode baru yang dinamakan "Iqro'".
Prinsip dasar metode Iqro’ sangat sederhana namun revolusioner pada masanya: langsung membunyikan huruf tanpa dieja secara verbal. Uniknya, metode ini tidak lahir dari laboratorium akademis menara gading, melainkan hasil uji coba langsung di bawah pohon jambu pekarangan rumah KH. As’ad Humam kepada anak-anak kampung setempat. Setiap ada susunan huruf yang dirasa membuat anak tersendat, beliau langsung merevisinya hingga menemukan formula 6 jilid yang kita kenal sekarang.
Hasil lapangan membuktikan efektivitas luar biasa. Anak-anak yang biasanya membutuhkan waktu setahun untuk bisa membaca kalimat pendek, dengan metode Iqro’ mampu mencapainya hanya dalam hitungan bulan. Keberhasilan ini menyebar laksana virus kebaikan, melintasi batas-batasan organisasi kemasyarakatan Islam, hingga akhirnya diadopsi secara resmi oleh pemerintah sebagai kurikulum wajib Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA/TPQ) di seluruh penjuru Nusantara.
Hingga saat ini, foto ikonik KH. As’ad Humam yang menggunakan peci dan memegang tongkat di sampul belakang buku Iqro’ menjadi saksi bisu sebuah revolusi pendidikan agama Islam. Buku tipis bersampul sederhana ini telah melahirkan jutaan generasi Muslim di Indonesia, Malaysia, Singapura, hingga Brunei Darussalam yang melek Al-Qur'an, menjadikannya salah satu warisan literasi paling berdampak dalam sejarah modern Indonesia.
Resensi Buku
Data Publikasi Buku
- Judul Buku: Iqro’ - Cara Cepat Belajar Membaca Al-Qur’an (Jilid 1–6)
- Penulis: KH. As’ad Humam
- Penerbit: Team Tadarus AMM (Angkatan Muda Masjid) Yogyakarta
- Tahun Terbit: ± 1990 (Awal mula penyusunan selesai secara penuh)
- Tebal Buku: 6 Jilid (Umumnya kini dibundel menjadi 1 buku tipis)
- Kategori: Pendidikan / Panduan Keagamaan Islam
Sinopsis dan Isi Buku
Buku Iqro’ adalah buku panduan praktis untuk belajar membaca Al-Qur'an secara bertahap yang dibagi menjadi enam jilid.
- Jilid 1-2: Mengenalkan huruf tunggal Hijaiyah dengan harakat fathah serta pengenalan huruf sambung dua kata pendek yang sederhana.
- Jilid 3-4: Mulai mengenalkan harakat lain (kasrah dan dhammah), tanda baca panjang (mad), serta huruf mati (sukun).
- Jilid 5-6: Mengajarkan hukum tajwid tingkat lanjut seperti tanwin, tasydid, cara membaca waqaf (berhenti), hingga potongan ayat-ayat panjang dari mushaf Al-Qur'an yang asli.
Kelebihan Buku
- Sistematis & Gradual: Kenaikan tingkat kesulitan diatur dengan sangat presisi, sehingga santri tidak merasa kaget saat naik kelas/jilid.
- Metode CBSA (Cara Belajar Santri Aktif): Menggunakan asas phonic (suara langsung) tanpa perlu mengeja kata tunggal (contoh: langsung dibaca "A-Ba-Ta", bukan "Alif fathah A, Ba fathah Ba"). Hal ini memotong waktu belajar hingga 3 kali lebih cepat dibanding metode lama.
- Desain Pembelajaran Mandiri: Guru bertindak sebagai penyimak, sementara murid yang aktif membaca secara mandiri.

Tidak ada komentar